
Aku masih setia menunggumu di gang ini. Tapi aku tetap tak menjumpaimu. Aku berharap dapat menemuimu. Aku membutuhkanmu. Aku ingin menbagi semua keluh kesahku. aku hampir patah semangat. Akhirnya ku biarkan kaki ini melangkah menuju tempat yang tak ku ketahui.
Aku menemui pengamen-pengamen kecil mengitariku sambil bernyanyi girang di jalan Sudirman. Mereka seolah mengerti masalah yang sedang menimpaku. Aku tersenyum kecil sambil membayangkan wajah ibuku yang telah kusakiti hatinya tadi. Perasaan bersalah makin membuatku meledak. Aku bergumam kecil "ibu...maafin Mentari".
Aku melangkah lagi menuju sebuah perkampungan kumuh. Kulihat seorang ibu tua yang sedang memanggul bakul. Wajahnya yang lusuh membuatku lagi-lagi teringat pada ibuku. Batinku makin memberontak. Aku makin takut karena kesalahanku sendiri. Akhirnya kuputuskan untuk menuju gang kecil, tempatku dan Fajar sering bertemu.
Firasatku tak salah. Aku bertemu Fajar di sana. Aku menghampirinya. "Fajar...aku mau cerita".
"cerita? cerita apa?"
"hari ini aku telah menyakiti hati ibuku",aku berkata sedikit gugup.
"memangnya apa yang terjadi?"
"aku berkata kasar padanya,aku bilang bahwa dirinya adalah ibu yang tidak baik untukku. Padahal selama ini, ibu adalah seseorang yang paling baik untukku."
"jadi kamu menyesal?",tanyanya singkat.
"ya"
"peluklah beliau. Katakan bahwa kamu adalah anak yang beruntung karena memiliki ibu sepertinya. Ibumu pasti akan memaafkanmu."
"terima kasih Fajar."
Suasana tiba-tiba menjadi sangat hening. Seperti ada sesuatu yang lewat.
"Mentari, kamu nggak pulang? ini udah senja",Fajar mengingatkanku untuk pulang.
"oh iya, aku akan pulang. Sebenrnya masih ada yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi, lebih baik aku mengatakannya besok."
"ya,jika itu kebih baik"
"aku pulang ya, jar", aku mulai melangkahkan kaki beranjak keluar dari gang angker yang orang bilang itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar